Long Distance RelationShit!


Distance means nothing if you believe on me, and i believe on you

Distance means nothing if you believe on me, and i believe on you

LDR? Sekarang emang lagi nge hits kan hubungan yang kaya gini. Yang banyak jaraknya dari pada deketnya. Yang banyak jauhnya dari pada bareng-barengnya. Yang lebih banyak kangen dari pada makan barengnya.

Anyway saya baru baca e-book bang Febri yang judulnya #CTAT (catatan tengil anak Teknik) dan di dalam e-booknya salah satu yang dibahas itu LDR. Ohh iya Ebooknya recomended banget. You should read that yaaa guys. Bisa langsung cuss ke link-nya disini  #CTAT. Enjoy reading yaaa guys!.

Dan sekarang tiba-tiba pengen nulis tentang LDR.

Soo... Too much people fail spent this complecated love. Buat saya ini complecated. Tapi banyak juga yang berhasil. Kenapa bisa berhasil? Iya berhasil ngadepin jarak, ngadepin perbedaan waktu, ngadepin kecurigaan picisan yang suka muter-muter diotak.

Karena pada hakikatnya setiap hubungan juga butuh jarak bukan?. Banyak orang putus bukan hanya karena miss komunikasi. Tapi juga bosen. Bosen bareng-bareng terus. Bosen main kemana-mana berdua. Ada kalanya kita butuh balik kedunia kita. Ngerjain kerjaan, main sama temen-temen, masturdate, and sleftime. Kalo saya biasanya butuh balik ke kehidupan saya untuk ngejar apa yang belum saya selesaikan. Seperti mencoba menata ulang waktu, dan management diri untuk membereskan beberapa hal yang terbengkalai.

Saya pernah membaca sebuah artikel. Di artikel itu diceritakan bahwa, ketika kita berhubungan dengan seseorang pada awalnya kita merasa cocok. Satu visi, satu misi. Kita akan begitu bahagia menghabiskan waktu berdua. Kemana-mana berdua, makan berdua. Like another couple. Tapi pada suatu waktu ketika kita mulai bosan dengan segala rutinitas yang ada, dan dengan segala kebersamaan. Muncul lah satu hal bahaya. Yang bahaya bukan rasa bosannya. Tapi yang bahaya adalah ketika pertanyaan " apakah kini aku sedang bersama orang yang tepat? " - yang kemudian muncul dan mampu merusak segala persepsi dan fungsi otak dan perasaan. Dari pertanyaan tersebutlah muncul perasaan mulai tidak nyaman dan berusaha mencari kenyamanan yang lain.hal ini Mungkin biasa disebut dengan "selingkuh".

Sama halnya dengan LDR, sebenarnya dibandingkan pikiran negatif thingking, komunikasi yang tidak jelas, atau ketidak adaan kita disamping pasangan. Bosan merupakan perusak terhebat sebuah perjuangan LDR.
Bosan dengan nggak bisa ketemu, bosan dengan hanya bisa berkeluh-kesah lewat telfon, bosan ketika orang lain bisa nonton bareng pacar sedangkan si pejuang LDR jalan sendiri. Yang kemudian dari rasa bosan itu muncul " apakah aku sedang menjalani hubungan yang benar?". Dari pertanyaan tersebut potensi persepsi dan prasangka lain muncul untuk menyudahi sebuah hubungan akan lebih besar. Dan kesetiaanpun bisa berhenti sampai disini.

Jadi, menurut saya dalam sebuah hubungan jarak bukanlah aktor utama perusak segalanya. Tapi bagaimana kedua pemain dapat melakukan hal-hal baru yang dapat menghindarkan kita dari pertanyaan yang kemudian memunculkan persepsi negatif tersebut. Karena ketika persepsi tersebut tidak muncul maka setiap pihak akan baik-baik saja meskipun dengan jarak yang jauh maupun jarak yang dekat.

Miles doesn't means anythings for me. If i have you here. In my heart.

Selamat berjuang kamu~

2 comments: